Sistem Penomoran Sarana Kereta Api di Indonesia

5
158
sistem penomoran lokomotif

SEJARAH PENOMORAN / KODEFIKASI

Setiap unit memiliki identitas sendiri. sistem penomoran atau kodefikasi pada sarana kereta api bertujuan untuk mengidentifikasi secara detail mulai dari awal pembelian hingga riwayat perawatannya serta untuk inventarisir. Sejarah penomoran atau kodefikasi pada kereta api di Indonesia berasal dari sistem penomoran Belanda yang digunakan oleh perusahaan kereta api di Hindia – Belanda seperti :

  • Staatsspoorwegen (SS),
  • Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS),
  • Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS),
  • Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).

Penomoran yang berdasarkan kelas dan nomor urut lokomotif milik perusahaan yang bersangkutan misalnya lokomotif SS1700, NIS1100, DSM227, SCS900.

Kemudian mengalami perubahan pada masa penjajahan jepang dirubah sesuai dengan susunan Roda AAR dan Klasifikasi UIC, yaitu menurut jumlah sumbu/poros/as roda (gandar) penggerak, sistem ini masih digunakan pada penomoran lokomotif diesel sampai saat ini.

Baca Juga :
Fungsi Pasir (Sandbox) pada Roda Lokomotif

SISTEM YANG BERLAKU SAAT INI

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM.54 Tahun 2016 tentang Standar Spesifikasi Teknis Identitas Sarana Perkeretaapian. guna memudahkan identifikasi dan inventarisasi pada setiap unit sarana kereta api baik lokomotif, kereta, gerbong dan peralatan khusus maka perlu dilakukan kodefikasi penomoran pada setiap sarana. Sistem penomoran sarana kereta api tersebut sebagaimana dimaksud terdiri atas :

[1] LOKOMOTIF

[1.a] Lokomotif Elektrik.
[1.b] Lokomotif Diesel.
[1.b.1] Lokomotif Diesel Elektrik;
[1.b.2] Lokomotif Diesel Hidrolik.

[2] KERETA

[2.a] Dengan Penggerak Sendiri;
         [2.a.1] Kereta Rel Listrik (KRL);
         [2.a.2] Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE);
         [2.a.3] Kereta Rel Diesel Hidrolik (KRDH).

[2.b] Ditarik Lokomotif.
        [2.b.1] Kereta Penumpang.
        [2.b.2] Kereta Makan.
        [2.b.3] Kereta Pembangkit.
        [2.b.4] Kereta Bagasi.
        [2.b.5] Kereta Tidur.

[3] GERBONG

[3.a] Gerbong Datar;
[3.b] Gerbong terbuka;
[3.c] Gerbong tertutup;
[3.d] Gerbong Tanki.

[4] PERALATAN KHUSUS

[4.a] Peralatan khusus dengan penggerak sendiri;
        [4.a.1] Crane;
        [4.a.2] Kereta Inspeksi (lori);
        [4.a.3] Kereta Derek.
        [4.a.4] Kereta Pembangunan dan Perawatan Jalan Rel
(MTT, PBR);
[4.a.5] Kereta Ukur.

[4.b] Peralatan khusus yang ditarik lokomotif.
        [4.b.1] Kereta Penolong (NR);

IDENTITAS SARANA KERETA API

Sistem penomoran sarana kereta api terdiri dari huruf dan angka yang menggambarkan :

a. Kodefikasi Jenis Sarana Perkeretaapian;
b. Klasifikasi Sarana perkeretaapian;
c. Tahun Sarana Perkeretaapian;
d. Nomor Urut Sarana Perkeretaapian.

SISTEM PENOMORAN KERETA

Kereta yang dilengkapi dengan fasilitas penumpang diberi tanda huruf “K” dengan diikuti angka decimal yang melambangkan kelas pelayanan, sebagai berikut :

a. Kode Huruf   “K1” = Kereta Penumpang Kelas Eksekutif;
b. Kode Huruf   “K2” = Kereta Penumpang Kelas Bisnis;
c. Kode Huruf    “K3” = Kereta Penumpang Kelas Ekonomi.
d. Kode Huruf    “M1” = Kereta Makan Kelas Eksekutif;
e. Kode Huruf    “M2” = Kereta Makan Kelas Bisnis;
f. Kode Huruf     “M3“ = Kereta Makan Kelas Ekonomi;
g. Kode Huruf    “B” = Kereta Bagasi
h. Kode Huruf    “P” = Kereta Pembangkit (Power);
i. Kode Huruf      “T” = Kereta yang dilengkapi dengan kereta tidur.

Kereta yang disusun untuk beberapa peruntukan, penandaan jenis sarana perkeretaapiannya merupakan gabungan dari tanda huruf masing-masing peruntukan fasilitas sebagaimana contoh dibawah :

a. Kode Huruf “KMP1” : Kereta Penumpang, Makan dan Pembangkit Kelas 1 (Eksekutif);
b. Kode Huruf “KP2” :  Kereta Penumpang dan Pembangkit Kelas 2 (Bisnis);
c. Kode Huruf “MP3” : Kereta Makan dan Pembangkit Kelas 3 (Ekonomi).

Kereta menggunakan 1 (satu) digit angka desimal yang diawali dengan angka “0” sampai “3” diantaranya :

a. Angka “0” = Kereta yang ditarik dengan Lokomotif;
b. Angka “1” = Diperuntukan untuk kereta rel listrik,
c. Angka “2” = Diperuntukan untuk kereta rel diesel elektrik,
d. Angka “3” = Diperuntukan untuk kereta rel diesel hidrolik.

Contoh :

K1 1 05 03

Keterangan :

K1 = Kereta Penumpang Kelas Eksekutif

1 = Kereta Rel Listrik
05 = Tahun pembuatan 2005
03 = Nomor urut sarana no.03

KMP3 0 09 07

Keterangan :

KMP3 = Kereta penumpang kelas ekonomi dilengkapi dengan kereta makan dan kereta pembangkit.
0 = Kereta ditarik Lokomotif
09 = Tahun Pembuatan Sarana 2009.
07 = Nomor Urut Sarana 07

SISTEM PENOMORAN GERBONG

Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian untuk gerbong terdiri atas :

a. Kode Huruf  “GD” = Gerbong Datar;
b. Kode Huruf  “GB” = Gerbong Terbuka;
c. Kode Huruf   “GT” = Gerbong Tertutup;
d. Kode Huruf   “GK” = Gerbong Tanki.

Gerbong menggunakan 2 (dua) digit angka desimal yang menunjukan kapasitas muat sarana.

Contoh :

GD 40 78 08

Keterangan :

GD = Gerbong Datar,
40 = Berat Muat 40 Ton.
78 = Tahun Pembuatan 1978
08 = Nomor Urut Sarana 08

SISTEM PENOMORAN KERETA PERALATAN KHUSUS

Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian peralatan khusus terdiri atas :

a. Kode Huruf “SI” = Kereta Inspeksi;
b. Kode Huruf “SN” = Kereta Penolong;
c. Kode Huruf “SU” = Kereta Ukur;
d. Kode Huruf “SC” = Kereta Derek;
e. Kode Huruf “SR” = Kereta Pembangunan dan Perawatan Jalan Rel;
f. Kode Huruf “ SK” = Kereta Khusus.

Peralatan khusus menggunakan 1 (satu) digit angka desimal yang diawali dengan angka “0” sampai “4” meliputi :

1) Angka “0” = Diperuntukan untuk peralatan khusus yang ditarik dengan lokomotif.
2) Angka “1” = Diperuntukan untuk peralatan khusus elektrik.
3) Angka “2” = Diperuntukan untuk peralatan khusus diesel elektrik,
4) Angka “3” = Diperuntukan untuk peralatan khusus diesel hidrolik,
5) Angka “4” = Diperuntukan khusus gabungan antara elektrik dan diesel elektrik.

Contoh :

SI 3 09 01

Keterangan :

SI = Kereta Inspeksi,
3 = Berpenggerak sendiri Diesel Hidrolik,
09 = Tahun Pembuatan 2009
01 = Nomor Urut Sarana 01

SISTEM PENOMORAN LOKOMOTIF

Kodefikasi pada awal penomoran lokomotif yang menggunakan huruf kapital menandakan Jumlah gandar penggerak untuk lokomotif sebagaimana berikut :

a. Huruf “A” untuk 1 (satu) gandar penggerak;
b. Huruf “B” untuk 2 (dua) gandar Penggerak;
c. Huruf “C” untuk 3 (tiga) gandar Penggerak;
d. Huruf “D” untuk 4 (empat) gandar Penggerak;

Kodefikasi Lokomotif menggunakan 3 (tiga) digit angka desimal uang meliputi :

1. Angka digit pertama memiliki arti :
a. Angka “1” untuk lokomotif elektrik;
b. Angka “2” untuk lokomotif diesel elektrik;
c. Angka “3” untuk lokomotif diesel hidrolik; dan,
d. Angka “4” untuk lokomotif gabungan antara elektrik dan diesel
elektrik.

Angka digit kedua dan ketiga yang diawali dengan angka “00” untuk seri tipe.

Contoh :

CC 201 78 01

Keterangan :

CC = Lokomotif menggunakan 2 (dua) bogie dengan masing-masing 3 (tiga) gandar penggerak.
201 = Lokomotif diesel elektrik seri tipe 01
78 = Tahun Pembuatan 1978
01 = Nomor urut 01

CC 301 08 02

Keterangan :

CC = Lokomotif menggunakan 2 (dua) bogie dengan masing-masing 3 (tiga) gandar penggerak.
300 = Lokomotif diesel hidrolik seri tipe 01
08 = Tahun Pembuatan 2008
02 = Nomor urut 02

Demikian artikel dari kami tentang sistem penomoran sarana kereta api yang berada di Indonesia. yang dirangkum sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No.54 Tahun 2016 tentang Standar Spesifikasi Teknis Identitas Sarana Perkeretaapian.

Jika sobat keped ada pertanyaan, atau masukan tentang artikel ini dapat langsung menghubungi kami dikontak. Terima Kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here