Persyaratan Teknis Peron Stasiun Kereta Api

1
196
Stasiun Rajamandala
Peron Stasiun Rajamandala

PENGERTIAN

Di setiap Stasiun Kereta Api yang melayani penumpang kita selalu menggunakan peron (platform) yang berfungsi sebagai tempat untuk aktifitas naik turun penumpang di stasiun kereta api. Peron berasal dari bahasa belanda ‘Perron’. Peron stasiun kereta dibuat berdasarkan perencanaan yang telah dikaji, tidak semua peron memiliki ukuran dan luas yang sama, tergantung dari jenis stasiun, operasi kereta dan kapasitas penumpang harian.

Dalam merencanakan pembangunan peron stasiun. Untuk panjang peron harus sesuai dengan rangkaian terpanjang kereta api penumpang yang beroperasi. dan untuk menghitung lebar peron stasiun dihitung berdasarkan jumlah penumpang dengan menggunakan formula sebagai berikut:

Hasil penghitungan lebar peron menggunakan formula di atas tidak boleh kurang dari ketentuan lebar peron minimal sebagai berikut :

Lantai peron stasiun kereta harus terbuat dari bahan yang tidak licin dan dibuat sedikit landai keatas pada masing-masing ujung peron agar ketika penumpang membawa kereta dorong atau stroller bayi atau kursi roda tidak bergerak maju menuju ujung peron.

Peron stasiun harus dilengkapi dengan garis marka atau disebut garis batas aman peron. setiap jenis peron memiliki garis batas aman peron yang berbeda-beda. Batas aman peron dapat berupa bahan cat atau tegel bergelombang yang dapat membantu menuntun penumpang tuna netra.

JENIS-JENIS PERON

Peron stasiun memiliki beberapa jenis. berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor.29 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Stasiun Kereta Api. Jenis Peron stasiun dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :

Contoh Peron di Stasiun Lempuyangan
Jalur 2 dan 3 Peron tinggi | Fajar Septiadi

PERON TINGGI

Contoh peron tinggi kita sering temui seperti di Stasiun Gambir, Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Bekasi dan masih banyak lagi stasiun-stasiun besar yang memakai peron tinggi.

Ciri-ciri dari peron tinggi adalah jarak antara pintu kereta dengan peron adalah sejajar. hal ini sangat memudahkan penumpang untuk naik turun penumpang.

Persyaratan Teknis Peron tinggi stasiun sebagai berikut :

Tinggi Peron
(di ukur dari kepala rel)
: 1000 mm
Jarak tepi peron ke as rel: 1600 mm (lurusan), 1650 mm (lengkungan)
Garis batas aman peron
(dari sisi tepi luar ke as peron)
: min.350 mm

PERON SEDANG

Tinggi Peron
(di ukur dari kepala rel)
: 430 mm
Jarak tepi peron ke as rel: 1350 mm
Garis batas aman peron
(dari sisi tepi luar ke as peron)
: 600 mm
Peron di Stasiun Rajamandala
Jalur 1 Peron Rendah dan
Jalur 2 Peron Sedang | Stasiun Rajamandala

PERON RENDAH

Peron rendah biasa sering kita jumpai di stasiun-stasiun kecil, jarak antara pintu kereta dengan lantai peron sangatlah tinggi. pada umumnya peron rendah sejajar dengan lantai stasiun, dan untuk naik turun penumpang biasanya kita sering melihat penumpang naik/turun dibantu petugas stasiun dengan menggunakan tangga.

Tinggi Peron
(di ukur dari kepala rel)
: 180 mm
Jarak tepi peron ke as rel: 1200 mm
Garis batas aman peron
(dari sisi tepi luar ke as peron)
: 750 mm

TEKNOLOGI KEAMANAN

Teknologi perkeretaapian dalam upaya peningkatan keselamatan khususnya pada peron stasiun kereta api saat ini tidak terbuka seperti pada kereta konvensional tanpa pembatas.

Baca Juga :
Mengenal KA Layang (Skytrain) APMS di Bandara Soekarno Hatta.
Cara Perhitungan Jarak Pengereman Kereta Api

Penggunaan pengaman keamanan peron stasiun khususnya kereta perkotaan seperti di MRT Jakarta, LRT Jakarta dan KA LAYANG (Skytrain) Bandara Soekarno Hatta sudah menggunakan teknologi Platform Screen Doors (PSD). PSD adalah teknologi pintu pengaman di peron yang bergerak buka dan tutup secara otomatis yang diintegrasikan selaras dengan pergerakan kereta.

LRT Jakarta platform screen doors (PSD)
Platform Screen Doors (PSD) | LRT Jakarta
Sumber :
Permenhun 29 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Stasiun Kereta.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here